Jumat, 07 Oktober 2011

ILMU KALAM

BAB II
PEMIKIRAN KALAM ULAMA MODERN

A.    SYEKH MUHAMMAD ABDUH
Dalam menjelaskan hubungan akal dan wahyu, Abduh menyatakan bahwa akal dan wahyu harus sesuai dengan akal manusia. Wahyu dalam risalah Tuhan menjadi salah satu tanda kekuasaan Tuhan, begitu juga dengan akal.

a.      Kedudukan Akal dan Fungsi Wahyu
Ada dua persoalan pokok yang menjadi fokus utama pemikiran Abduh :
1)      Membebaskan akal pikiran dari belenggu-belenggu tauhid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana haknya salaf Al-Ummah (Ulama sebelum abad ke-3 Hijriyyah).
2)      Memperbaiki gaya bahasa arab, baik yang digunakan dalam percakapan maupun dalam tulisan di media massa.
Dua pemikiran itu muncul ketika ia meratapi perkembangan umat islam pada masa itu. Seperti yang dijelaskan Sayyid Quttub, dalam bukunya “Khasa ‘Ish At-Tasawwur” Hal. 19. Bahwa pada masa itu umat Islam dalam keadaan beku, fakum, diam dan tidak berkembang, menutup pintu Ijtihad. Karena mereka merasa telah cukup dengan hasil karya dari para pendahulunya.
Abduh menyimpulkan bahwa, dengan akal kita bisa mengetahui,
-          Tuhan beserta sifat-Nya
-          Keberadaan hidup di Akhirat
-          Kebahagiaan jiwa di akhirat bergantung pada upaya mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedangkan kesengsaraannya bergantung pada sikap tidak mengenal Tuhan dan berbuat jahat.
-          Kewajiban manusia mengenal Tuhan
-          Kewajiban manusia berbuat baik, dan menjauhi kejahatan, untuk kebahagiaan akhirat.
-          Hukum mengenal kewajiban-kewajiban itu.  
Baginya wahyu adalah penolong (al-mu’in). kata ini ia pergunakan untuk menjelaskan fungsi wahyu bagi akal.
Lebih jauh lagi Abduh memandang bahwa menggunakan akal merupakan salah satu dasar Islam. Iman seseorang tidak sempurna jika tidak di dasarkan dengan akal. Menurutnya kepercayaan kepada eksistensi Tuhan juga berdasarkan akal dan wahyu yang di bawa Nabi tidak mungkin bertentangan dengan akal.

b.      Kebebasan Manusia dan Fatalisme
Menurut Abduh, selain mempunyai daya fakir, manusia juga mempunyai kebebasan memilih. Manusia dengan akalnya mampu mempertimbangkan akibat perbuatan yang dilakukannya, kemudian mengambil keputusan sesuai dengan kemauannya, dan mewujudkan kemauan tersebut dengan daya yang ia miliki.
Pemikiran seperti Jabariyyah tidak sejalan dengan pemikiran Abduh, menurutnya manusia mempunyai kebebasan berpikir dan kebebasan memilih, namun bukan kebebasan yang absolute. Ia mengangap bahwa yang mengatakan manusia mempunyai kebebasan mutlak adalah orang yang angkuh.

c.       Sifat-sifat Tuhan
Ia menjelaskan bahwa hal itu terletak diluar kemampuan manusia. Diantara sifat-sifat yang wajib pada dirinya ialah sifat hayat (hidup), dan diringi oleh ilmu (mengetahui) dan iradah (kehendak). Hidup adalah sifat kesempurnaan bagi wujud-Nya. Menurutnya semua perbuatan Allah muncul dari Ilmu dan Iradah-Nya.

d.      Kehendak Mutlak Tuhan
Abduh melihat bahwa Tuhan tidak bersifat mutlak. Tuhan telah membatasi kehendak mutlak-Nya, dengan memberi kebebasan dan kesanggupan kepada manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Kehendak mutlak Tuhan-pun dibatasi oleh sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya.

e.       Keadilan Tuhan
Abduh mempunyai kecenderungan untuk memahami dan meninjau alam ini bukan hanya dari segi kehendak Mutlak Tuhan, tetapi juga dari segi pandangan dan kepentingan manusia. Ia berpendapat bahwa alam ini diciptakan untuk kepentingan manusia dan tidak satupun ciptaan-Nya yang tidak membawa manfaat bagi manusia. Adapun masalah keadilan Tuhan, ia memandangnya bukan hanya dari segi kemaha sempurnaan-Nya, tetapi dari pemikiran rasional manusia. Sifat ketidak adilan tidak dapat diberikan kepada Tuhan, karena itu tidak sejalan dengan kesempurnaan aturan alam semesta.

f.       Antropomorfisme
Karena Tuhan termasuk alam rohani, rasio tidak dapat menerima faham bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani. Abduh berpendapat bahwa tidak mungkin esensi dan sifat-sifat Tuhan mengambil bentuk tubuh atau roh mahluk di alam ini.

g.      Melihat Tuhan
Abduh tidak menjelaskan bahwa Tuhan dapat dilihat pada hari perhitungan kelak. Ia hanya menyebutkan bahwa orang yang percaya pada tanzih (keyakinan bahwa tidak ada satupun dari mahluk yang menyerupai Tuhan), sepakat mengatakan bahwa Tuhan tidak dapat di gambarkan atau di jelaskan dengan apapun. Kesanggupan melihat Tuhan dianugerahkan pada orang-orang tertentu saja di akhirat kelak.

h.      Perbuatan Tuhan
Abduh sefaham dengan Mu’tazilah dalam mengatakan bahwa wajib bagi Tuhan untuk berbuat apa yang terbaik bagi manusia.

B.     SAYYID AHMAD KHAN
Sayyid Ahmad Khan mempunyai kesamaan pemikiran dengan Muhammad Abduh di Mesir. Sebagai penganut ajaran Islam yang taat dan percaya akan kebenaran wahyu, ia berpendapat bahwa akal bukanlah segalanya dan kekuatan akalpun terbatas.
Keyakinan kekuatan dan kebebasan akal menjadikan percaya bahwa manusia bebas untuk menentukan kehendak dan melakukan perbuatan. Ia mempunyai faham yang sama dengan faham Qadariyah.
Menurutnya manusia telah dianugerahi Tuhan berbagai macam daya, diantaranya adalah daya berpikir berupa akal, dan fisik untuk merealisasikan kehendaknya.
Sejalan dengan faham Qadariyah, ia menentang keras famah Taqlid. Ia berpendapat bahwa umat Islam India mundur karena mereka tidak mengikuti perkembangan zaman.
Ia juga mengemukakan bahwa Tuhan telah menentukan tabiat atau nature (sunatullah) bagi setiap mahluk-Nya, Islam adalah agama yang paling sesuai dengan hukum alam, karena hokum alam adalah ciptaan Tuhan dan al-Qur’an adalah firman-Nya.
Khan hanya mengambil Al-Qur’an sebagai pedoman Islam, sedangkan yang lain seperti hadits dan fiqh hanya sebagai pembantu dan kurang begitu penting. Ia berpendapat bahwa hadits hanyalah berisi moralitas sosial dari masyarakat Islam.
Khan memandang perlu diadakannya Ijtihad-ijtihad baru untuk menyesuaikan pelaksanaan ajaran-ajaran Islam dengan situasi dan kondisi masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan. 


C.    MUHAMMAD IQBAL
Muhammad Iqbal lebih terkenal seorang filosof eksistensialis. Sebagai pembaharu, ia sadar umat Islam perlu melakukan pembaharuan untuk keluar dari kemunduran, yang disebabkan oleh kebekuan dan ditutupnya pintu Ijtihad. Mereka seperti kaum konservatif, menolak fikiran rasional kaum Mu’tazilah. Karena hal tersebut dianggap membawa disintegrasi umat Islam dan membahayakan kestabilan politik mereka.

1)      Hakikat Teologi
Secara umum ia melihat Teologi sebagai ilmu yang berdimensi keimanan, mendasarkan pada esensi tauhid (universal dan inklusifistik). Di dalamnya terdapat jiwa yang bergerak berupa “persamaan, kesetiakawanan dan kebebasmerdekaan”. Pandangannya tentanng ontology Teology membuatnya berhasil melihat anamali (penyimpangan) yang melekat pada literature ilmu kalam klasik.

2)      Pembuktian Tuhan
Dalam membuktikan eksistensi Tuhan, Iqbal menolak argument kosmologis maupun Ontologis. Ia juga menolak argumen Teologis yang berusahan membuktikan eksistensi Tuhan yang mengatur ciptannya dari sebelah luar.

3)      Jati Diri Manusia
Famah Dinamisme Iqbal berpengaruh besar terhadap Jati diri manusia. Penulusuran terhadap pendapatnya tentang persoalan ini dapat dilihat dari konsepnya tentang ego, ide sentral dalam pemikiran filosofisnya.

4)      Dosa
Iqbal secara tegas menyatakan dalam seluruh kuliahnya bahwa Al-Qur’an menampilkan ajaran tentang kebebasan ego manusia yang bersifat kreatif. Dalam hubungan ini, ia mengembangkan cerita tentang kejatuhan Adam, (karena memakan buah Khuldi). Sebagai kisah yang berisi pelajaran tentang “kebangkitan Manusia dari kondisi primitive yang dikuasai hawa nafsu naluriah kepada pemilikan kepribadian bebas yang diperolehnya secara sadar, sehingga mampu mengatasi kebimbangan dan kecenderungan untuk membangkang”. Dan “timbulnya ego terbatas yang memiliki kemampuan untuk memilih”.

5)      Surga dan Neraka
Menurut Iqbal, Surga dan Neraka adalah keadaan, bukan tempat. Neraka menurut rumusan Al-Qur’an adalah “Api Allah yang menyala-nyala dan membumbung ke atas hati”, pernyataan yang menyakitkan mengenai kegagalan manusia. Sedangkan Surga menurut Al-Qur’an adalah, kegembiraan karena mendapatkan kemenangan dalam mengatasi berbagai dorongan yang menuju kepada perpecahan. Surga juga bahkan merupakan tempat berlibur. Kehidupan itu hanya satu dan berkesinambungan.





BAB III
ILMU KALAM MASA KINI

A.    PEMIKIRAN KALAM AL-FARUQI
Al-Faruqi menjelaskan hakikat tauhid sebagai berikut
1.      Tauhid sebagai Inti Pengalaman Agama
Manurut Al-faruqi, inti pengalaman agama adalah Tuhan. Kehadiran Tuhan mengisi kesaaran muslim setiap waktu. Bagi muslim, Tuhan merupakan obsesi yang benar-benar agung.

2.      Tauhid sebagai Pandangan Dunia
Tauhid merupakan pandangan umum tentang realitas, kebenaran, dunia, ruang, dan waktu, sejarah manusia, dan takdir.

3.      Tauhid sebagai Intisari Islam
Esensi peradaban Islam adalah Islam sendiri, dan esensi Islam adalah Tauhid atau pengesaan Tuhan. Tidak ada satu perintah pun yang lepas dari Tauhid.

4.      Tauhid sebagai Prinsip Sejarah
Tauhid menempatkan manusia pada suatu etika berbuat atau bertindak. Eskatologi Islam tidak memiliki sejarah formatif. Ia terlahir lengkap dalam Al-Qur’an dan tidak mempunyai kaitan dengan situasi para pengikutnya pada masa kelahirannya. Ia di kenal sebagai suatu klimaks moral bagi kehidupan.

5.      Tauhid sebagai prinsip pengetahuan
Iman Islam adalah kebenaran yang diberikan kepada pikiran, bukan kepada perasaan manusia yang mudah mempercayai apa saja. Kebenaran, atau proposisi iman bukanlah misteri, hal yang sulit dipahami dan tidak dapat diketahui, dan tidak masuk akal. Melainkan bersifat kritis dan rasional.





6.      Tauhid sebagai Prinsip Metafisika
Dalam Islam, alam adalah ciptaan dan anugerah. Sebagai ciptaan ia bersifat teotologis, sempurna dan teratur. Sebagai anugerah, ia merupakan kebaikan yang tak mengandung dosa.

7.      Tauhid sebagai Prinsip Etika
Tauhid menegaskan bahwa Tuhan telah memberi amanat-Nya kepada manusia. Amanat tersebut berupa pemenuhan unsur etika dari kehendak Illahi, yang bersifat mensyaratkan bahwa ia harus di realisasikan dengan kemerdekaan, dan manusia adalah satu-satunya mahluk yang mampu melaksanakannya.

8.      Tauhid sebagai Prinsip Tata Sosial
Dalam Islam, tidak ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat terbuka, dan setiap manusia boleh bergabung dengannya, baik sebagai anggota tetap ataupun sebagai yang dilindungi (Dzimmah).

9.      Tauhid sebagai Prinsip Ummah
Al-Faruqi menjelaskan prinsip ummah Tauhid sebagai berikut :
-          menentang enosentrisme
-          Universalisme
-          Totalisme
-          Kemerdekaan

10.  Tauhid sebagai Prinsip Keluarga
Al-Faruqi memandang bahwa selama tetap melestarikan identitas mereka dari gerogotan komunisme dan ideologi-ideologi barat, umat Islam akan menjadi masyarakat yang selamat dan tetap menempati kedudukannya yang terhormat.

11.  Tauhid sebagai Prinsip Tata Politik
Al-Faruqi mengaitkan Tata Politik Tauhidi dengan kekhalifahan. Kekhalifahan didefinsikan sebagai kesepakatan tiga dimensi yakni : Kesepakatan wawasan (Ijma Ar-Ru’yah), Kehendak (Ijma Al-Iradah), dan Tindakan (Ijma Al-Amal).
12.  Tauhid sebagai Prinsip Tata Ekonomi
Al-Faruqi melihat bahwa premismayor implikasi Islam untuk Tata Ekonomi melahirkan dua prinsip utama.
-          Bahwa tidak ada seorang atau kelompok pun boleh memeras yang lain
-          Tidak satu kelompok pun boleh mengasingkan atau memisahkan diri dari umat manusia lainnya.

13.  Tauhid sebagai Prinsip Estetika
Tauhid tidak menentang kreatifitas seni; juga tidak menentang kenikmatan dan keindahan. Sebaliknya Islam memberikan keindahan. Islam menganggap bahwa keindahan mutlak hanya ada dalam diri Tuhan dan dalam kehendak-Nya.

B.     PEMIKIRAN KALAM HASAN HANAFI
1)      Kritik Terhadap Teologi Tradisional
Hanafi menegaskan perlunya mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan (Teologi) sesuai dengan perubahan konteks politik yang terjadi. Konteks sosial politik sekarang sudah berubah. Islam mengalami berbagai kekalahan di berbagai medan pertempuran sepanjang periode kolonialisasi. Oleh karena itu, kerangka konseptual lama harus diubah menjadi kerangka konseptual baru yang berasal dari kebudaayaan modern.
Hanafi memandang bahwa Teologi bukanlah pemikiran murni yang hadir dalam kehampaan, kesejarahan, melainkan merefleksikan konflik-konflik sosial politik. Sebagai produk pemikiran manusia, Teologi terbuka untuk kritik.
Teologi sesungguhnya bukan ilmu tentang Tuhan karena Tuhan tidak tunduk kepada Ilmu. Ilmu Kata adalah Tafsir yaitu Ilmu Hermeneutik yang memperlajari analisis percakapan (discorse analysis).

2)      Rekonstruksi Teologi
Tujuan Rekonstruksi Teologi hanafi adalah menjadikan Teologi tidak sekedar dogma-dogma keagamaan yang kosong, melainkan menjelma sebagai ilmu tentang pejuang sosial.
Langkah melakukan rekonstruksi Teologi sekurang-kurangnya dilatar belakangi oleh tiga hal berikut.
Ø  Kebutuhan akan adanya sebuah Ideologi
Ø  Pentingnya Teologi baru ini bukan semata pada sisi teorotisnya, melainkan juga terletak pada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan Ideologi sebagai gerakan dalam sejarah.
Ø  Kepentingan Teologi yang bersifat praktis (Amaliah Fi-liah)
Hanafi menawarkan du ahal untuk memperoleh kesempurnaan teori ilmu dalam Teologi Islam yaitu.
1)      Analisis Bahasa
Teologi tradisional memiliki istilah-istilah khas seperti Allah, Iman, Akhirat. Menurut Hanafi semua ini sebenarnya menyingkapkan sifat-sifat dan metode keilmuan, ada yang empirik rasional seperti Iman, amal, dan Imamah, dan ada yang historis seperti nubuwah, serta ada pula yang metafisik seperti Allah dan Akhirat.
2)      Analisis Realitas
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang historis sosiologis munculnya Teologi di masa lalu, ini berguna untuk menentukan stresing ke arah mana Teologi kontemporer harus diorientasikan.

C.    PEMIKIRAN KALAM H.M. RASYIDI
Secara garis besar pemikiran kalamnya dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)      Tentang Perbedaan Ilmu Kalam dan Teologi
Rasyidi menolak pandangan Harun Nasution yang menyamakan pengertian Ilmu Kalam dan Teologi. Teologi terdiri dari dua perkataan, yaitu Teo (Theos) artinya Tuhan, dan Logos artinya Ilmu. Jadi Teologi berarti Ilmu Ketuhanan.

2)      Tema-tema Ilmu Kalam
Salah satu tema-tema Ilmu Kalam Harun Nasution yang dikritik Rasyidi adalah deskripsi aliran-aliran Kalam yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi umat Islam sekarang. Tidak ada Agama mengagungkan akal seperti Islam, tetapi dengan menggambarkan bahwa akal dapat mengetahui baik dan buruk, sedangkan wahyu hanya mebuat nilai yang dihasilkan pikiran manusia bersifat absolut universal. Berarti meremehkan ayat-ayat Al-Qur’an.

3)      Hakikat Iman
Rasyidi mengatakan bahwa Iman bukan sekedar menuju bersatunya manusia dengan Tuhan, tetapi dapat dilihat dalam dimensi konsekuensial atau hubungan manusia dengan manusia. Yang lebih penting dari aspek penyatuan itu adalah kepercayaan, ibadah, dan kemasyarakatan.

D.    PEMIKIRAN KALAM HARUN NASUTION
1.      Peranan Akal
Harun Nasution menuliskan, “Akal melambangkan kekuatan manusia. Karena akallah, manusia mempunyai kesanggupan untuk menaklukan kekuatan mahluk lain sekitarnya. Bertambah tinggi akal manusia, bertambah tinggilah kesanggupannya untuk mengalahkan mahluk lain. Bertambah lemah kekuatan akal manusia, bertambah rendah pulalah kesanggupannya menghadapi kekuatan-kekuatan lain tersebut”. Pemakaian akal dalam Islam sendiri telah diperintahkan oleh Al-Qur’an.

2.      Pembaharuan Teologi
Pembaharuan Teologi, pada dasarnya dibangun di atas asumsi bahwa keterbelakangan dan kemunduran umat Islam Indonesia adalah disebsbkan “ada yang salah” dalam teologi mereka. Umat Islam hendaklah mengubah teologi mereka menuju teologi yang berwatak Free Will, rasional, serta mandiri.

3.      Hubungan Akal dan Wahyu
Hubungan Akal dan Wahyu memang menimbulkan pertanyaan, tetapi keduanya tidak bertentangan. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al-Qur’an. Akal dipakai untuk memahami teks wahyu dan tidak untuk menentang wahyu.
Yang bertentangan dalam Islam sebenarnya adalah pendapat akal ulama tertentu dengan pendapat akal ulama lain.

 


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung, 2006.

Anwar Rosihon, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung, 2006.

Fauzi Ahmad, Ilmu Kalam (Sebuah Pengantar), STAIN Press, Cirebon, 2008.

Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, UI-Press, Jakarta, 1986.

Hamzah Ya’Qub, Filsafat Agama ”Titik Temu Akal dengan Wahyu”,
Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1992.


Minggu, 02 Oktober 2011

LUKISAN TUHAN

Hamparan air begitu luas, ujung dunia terlukis indah, bertabur bintang, berkelip di gulungan ombak.
oh... indahnya negeri ini.
negeri Tuhan Yang Agung,


ramah angin melambai bertiup dari dratan, menyapa sang ikan yang menari diantara bebatuan.
wahai pencipta alam.... sang penguasa lautan... alangkah indahnya lukisan-Mu.

Jumat, 30 September 2011

BENAR DAN SALAH



Ku tak mampu tuk menghindar, cengkraman rasa terus menikam dari kepala hingga kaki. Hati bergejolak, ingin berontak mencoba menolak. Percuma saja,,,,
Pasrah… hanya itu yang ku bisa.
Dilema, ku tak ingin ini jadi petaka. Aku kan terluka, kaupun sama terluka karenanya.

Aaahh… entahlah, apakah mereka tau tentang apa yang kita lakukan?
Mengertikah mereka dengan hati kita?
Ku yakin, mereka pun pernah muda, mereka pun pernah mengalami dilema cinta. Tapi mengapa mereka memberi kita dilema?
Mengganggu aktifitas kah? Ku rasa tidak.

Mungkin benar, menurut agama “tidak ada kata pacaran”,
Pacaran dalam segi apa??
Salahkah jika kita mempunyai hubungan tuk saling mengenal diri pribadi?
Salahkah jika mencoba menyatukan hati?

Lihatlah…
Tidak sedikit pasangan suami istri berpisah karena tidak saling mengerti pasangannya.
Tidak sedikit pula pertengakaran berbuah perceraian terjadi karena tidak tahu banyak tentang pasangannya.
Bukankah “perceraian” adalah hal yang di benci Gusti Allah??

Lalu…
Jika seseorang berhubungan (katakanlah pacaran) untuk saling mengenal watak, sifat, kebiasaan, masing-masing. Apakah itu salah?
Toh, hubungan mereka masih dalam tahap wajar… malah dengan hubungan itu mereka lebih termotifasi dalam kebaikan. Saling mengingatkan, saling tukar pikiran, belajar untuk kehidupan kelak.


Kamis, 29 September 2011

frustasi

FRUSTASI
Oleh : Awang Junior

Menghirup segarnya malam , disisa runtuhan iman
Terbaring di atas altar Tuhan,
Aroma arak tak jua hilang.
Tertawa, ha…ha…ha…
Memekin malam sunyi.
Menangis, tersendak, dan kembali terbahak.

Wahai jiwa-jiwa yang kelam, apa kabar?
Lihatlah! Mataku tak mampu terpejam.

Hilang, sadarku terbang
Pergi, anganku menyendiri
Kembali, kapan kan kembali?

Manusia-manusia durjana, kemarilah!
Rahwana Raja telah merasuk kepala,
Berputar terus berputar, seperti kutu di atas bangkai.


Cirebon, 27 September 2011
19.30


BINTANG KECILKU*


Oleh : Awang Junior

Menangis, ku kan menangis.
Jika ku kehilanganmu.
Tak terbayangkan, kiamatku kan terjadi jika kau pergi,
Tawaku mati tanpamu.

Kau begitu berharga,
Rindu, kasih, cinta tercipta karena kau selalu ada.
Kaulah sebuah Maha Karya terindah,
Pelengkap kepingan jiwa.
Kaulah titisan Dewi Sinta, hadir dengan penuh cinta.

Wahai bintang kecilku,
Kau bukan kekasihku,
Kau bukan idolaku, bukan pula pendamping hidupku,
Tapi kau melebihi semua.
Kau bagai bintang di gelap malam,
Begitu berharga bagi sang langit,
Kau bintang yang menyempurnakan malam.

Bintang kecilku, Tetaplah kau begitu.
Ku kan tetap menjagamu, hingga langit tak mampu terang.


Cirebon, 27 September 2011
23.30


*) Terima kasih untuk adik-adiku tercinta.   
     (Opi Tansela, Ratu Amelia, Nurul Badriyah, Tyara)

Senin, 26 September 2011

“BUNDA”



Oleh : Awang Junior

Terbayang akan jasa-jasamu, peluh tak pernah mengeluh, lelah tak pernah menyerah.
Menuntun kami dengan penuh cinta, tuk temukan surga.
Niatmu tak pernah berubah, meski tak mudah .
Ketegaran tetap tersanding di depan mata kami,
walau kami tahu terkadang melemah.
 
Penghargaan besar pantaslah tersemat untukmu.
Engkaulah manusia terhebat,
Engkaulah sang malaikat,
Pejuang hari kiamat.
Oh Tuhan,

Jadikanlah ia sebagai manusia pilihan-Mu,
Sandingkanlah ia dengan kami, kelak di surga-Mu,
Jagalah ia tetap dalam cinta-Mu.

Kami… mungkin tak akan mampu tuk membalas jasa-jasanya,
Walau bintang bulan kami persembahkan,
Walau nyawa menajadi taruhan,
Semua tak akan menyamai apa yang telah ia lakukan.

Bunda…
Maafkan kami yang tak bisa membahagiakanmu…



Cirebon, 26 September 2011
08.30 WIB

Minggu, 18 September 2011

FATAMORGANA

Bingung… hariku terus membingungkan. Dulu ku selalu berkata “aku ingin kembali padamu”, tapi tak pernah kau pedulikan, sampai sekarang pun seperti itu. Hingga ku berfikir kau benar-benar tak peduli.

Hari berganti, kita semakin jauh. Jangankan duduk satu meja, tegur sapa pun tak ada. Mungkin kita sudah berakhir, biarlah seperti ini asal tidak saling menyakiti. (fikirku).
Bulan baru, tak sengaja ku jumpa kamu di kedai kopi depan kampus. Mulai saat itulah, ku kembali mampu menggerakan bibir tuk memanggilmu “Jeyek”.

17 September 2011, sungguh tak disangka kau masih perhatian dan peduli denganku. Rasa sakit di perutku akibat maag terasa ringan saat kau disampingku. Tapi ku tau, ini hanya bentuk kepedulian terhadap teman, ku sadar betul tentang itu.
Aku tak mau lagi terjerumus dalam perasaan yang salah. Fatal jika itu kembali terjadi dan kita kembali jauh, aku pun tak mau seperti itu, seperti yang kau tuturkan pada malam harinya.

Santai sajalah, ikuti arus saja.

18 September 2011, kau mendatangiku berniat meminta bantuan tuk memulihkan FD yang rusak.
Tanpa ku sadari, saat ku tinggal keluar kau mengoprek FD yang berisikan data pribadi. Aahhh… biarlah nikmatilah isi FD-ku.
Entah mengapa, setelah beberapa menit denganmu ku merasa tergoda oleh bahasa tubuhmu.
Kita pun terbuai nafsu … (fatamorgana) . . .

“Jangan minta balikan” . . . itu kalimat yang terucap dari bibirmu, aku tak tau apa maksudnya. Setelah terbuai dalam “fatamorgana”, ku fikir kita akan kembali memadu cinta… tapi kalimat itu sungguh membuatku bingung.
Hingga detik ini . . .

Kamis, 08 September 2011

PANGERAN DAN RATU ELIZABETH

Alkisah, di suatu daerah tinggallah seorang Pangeran, ia bernama Antonio. Antonio tinggal di suatu kerajaan yang cukup makmur. Antonio adalah putra ke-6 dari 7 bersaudara.
Pada suatu ketika, di suatu daerah kerajaan yang tidak jauh dari kerajaan Antonio, yaitu Kerajaan Buntren mengadakan acara ritual mengenang para raja, Antonio ingin sekali pergi kesana. Tapi ia bingung, mau kesana dengan siapa. Antonio tidak terbiasa pergi sendirian.
Maka dengan telepati yang ia kuasai, pangeran Antonio mencoba menghubungi Pangeran Benzaghi dari Kerajaan Timur. Pangeran Antonio dan Benzaghi sudah lama berteman, karena keduanya menimba ilmu di padepokan yang sama. Semenjak masuk di padepokan, mereka langsung cocok, dan saling mengerti satu sama lain. Bahkan saat bersaing memperebutkan seorang ratu, tidak mengurangi keakraban mereka.
Mendapat ajakan dari Antonio, tanpa banyak bertanya, Pangeran Benzaghi bergegas menuju kerajaan Timur dengan kuda hitamnya.
***
 

Senja sudah nampak di ujung barat, Pangeran Benzaghi sudah tiba di Kerajaan Timur. Setelah menikmati jamuan, dan bersantai sejenak, keduanya telah siap pergi menghadiri ritual para raja. Dengan kuda tunggannya, mereka menuju ke tempat ritual. Hanya setengah jam dari tempat Antonio.
Baru sampai di gerbang kerajaan Buntren, jalanan sudah penuh dengan antrian pada penduduk, laki-laki perempuan berbaur. Namun sayang sekali, kuda yang mereka tunggangi tidak boleh dibawa masuk. Hanya cukup di luar gerbang saja. Dan keduanya berjalan menuju tempat ritual yang ada di dalam wilayah kerajaan.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka ditempat ritual, diikutinya acara ritual dengan khusuk. Walaupun gerimis turun, tapi tidak mengurangi kekhusu’an ritual. Tapi kelakuan bengal Antonio belum juga hilang, disela-sela ritual ia masih sempat menyalakan cerutunya. Walaupun begitu, Antonio tetap khusuk mengikuti ritual, mengikuti doa-doa yang dibacakan para pinih sepuh, hingga acara ritual selesai.
***
 

Malam mulai dingin, Antonio dan Benzaghi masih ada di wilayah kerajaan Buntren. Mereka sengaja tidak langsung pulang, disamping di kerajaan Buntren ada acara jamuan pada malam hari, mereka juga berniat mencari Ratu Elizabeth, teman lamanya sejak di padepokan. Namun dikarenakan beberapa hal, Ratu Elizabeth pindah ke padepokan khusus perempuan. Antonio dan Benzaghi pun tidak pernah bertemu lagi dengan Ratu Elizabeth.
Pada acara ritual seperti ini biasanya Ratu Elizabeth juga hadir, makanya Antonio dan Benzaghi memutuskan tidak langsung pulang, dan mau mencari Elizabeth sampai ketemu. Walaupun sangat sulit menemukan satu orang diantara ribuan pengunjung, tapi niat Antonio dan Benzaghi sudah bulat, tidak ada yang bisa menghalangi niatan mereka.
Antonio dan Benzaghi terus mencari Elizabeth, mereka sangat yakin akan menemukan Elizabeth ditempat itu. Karena dulu Elizabeth pernah tinggal di Kerajaan Buntren, pastinya dia akan kesini menghadiri acara ritual.
Ruas-ruas jalan yang penuh dengan manusia tidak menghalangi mereka tuk mencari Elizabeth, tempat-tempat yang kemungkinan di datangi oleh seorang ratu mereka datangi. Sampai tak terasa malam semakin larut, ruas jalan mulai sedikit lengang. Tapi lelah mulai menggoda, aroma khas minuman kerajaan memaksa mereka untuk beristirahat melepas lelah, tidak ketinggalan pula cerutu menemani istirahat mereka.
***
 

Detik berganti menit, menit berganti jam, tengah malam telah lewat. Rasa ngantuk mulai menghantui. Antonio terlihat begitu lelah, perbincangan Antonio dan Benzaghi sedikit menandakan keputus asaan.
Ditengah-tengah keputus asaan, tiba-tiba mata Antonio tertuju pada sesosok wanita, berjalan begitu anggun dengan kedua temannya.
“Benz, itu Elizabeth” teriak Antonio spontan.
Tapi… owh siapa itu dua orang laki-laki persis di belakang Elizabeth?
Antonio dan Benzaghi mulai bertanya-tanya, tapi mereka tidak tinggal diam. Di ikutinya Elizabeth dari kejauhan. Antonio semakin tidak sabar, ia berjalan lebih cepat namun tetap menjaga jarak, agar tidak terlalu dekat dengan mereka. Antonio dan Benzaghi tidak enak hati jika langsung menghampiri mereka, ditakutkan salah satu dari laki-laki itu adalah kekasih Elizabeth.
Benar saja, kekhawatiran mereka cukup beralasan. Keluar dari pintu gerbang, Elizabeth, dua orang temannya, dan dua laki-laki itu masuk ke sebuah tenda (tempat makan). Melihat semua itu, Antonio dan Benzaghi memutuskan untuk balik lagi ke tempat mereka menikmati minuman tadi. Dengan harapan, Elizabeth balik lagi melewati tempat mereka.
***
 

Dewi fortuna rupanya berpihak pada mereka, tidak lama berselang Elizabeth benar-benar balik lagi melewati tempat mereka istirahat, tapi kali ini dengan menunggani kereta kuda. Rupanya Elizabeth sempat melihat Antonio dan memanggilnya. Antonio tidak dapat berkata apa-apa, tertegun diam.
Setelah kereta yang ditumpangi Elizabeth cukup jauh, Antonio baru sadar dan langsung mengejar kereta itu di temani Benzaghi.
Akhirnya kerata kuda itu berhenti di depan kedai, Antonio langsung menghampiri Elizabeth keduanya tersenyum setelah saling melihat. Tapi Elizabeth sejenak masuk ke kedai untuk membeli minuman. Antonio dan Benzaghi menunggu di luar.
Tak berapa lama, Elizzabeth dan kedua temannya keluar dan menghampiri Antonio. Perbincangan pun dimulai, namun mereka tidak merasa nyaman berbincang di pinggir jalan, dan dilihat banyak mata. Elizabeth pun mengajak Antonio dan Benzaghi ke sebuah padepokan kecil. Sewaktu Elizabeth tinggal di kerajaan Buntren, padepokan kecil jadi tempat Elizabeth menimba ilmu.
 

Elizabeth, dua temannya, Antonio, dan Benzaghi sampai di padepokan, mereka duduk di dekat taman yang cukup asri. Dinginnya angin tidak terasa karena perbincangan mereka semakin hangat. Antonio, Benzaghi, dan Elizabeth silih berganti bercerita, tukar pengalaman, dan melepas kerinduan. Canda tawa terlontar, menyeruak menembus gelapnya langit. Kehangatan, keakraban yang sempat hilang kini kembali lagi.
Kegigihan Antonio dan Benzaghi tuk menemukan Elizabeth tidak sia-sia, kesabaran berbuah manis, RATU YANG HILANG TELAH KEMBALI.
***

Inilah cerpen kolosal dari Awang Junior,  biarlah kita tinggalkan Antonio, Elizabeth, dan Benzaghi yang sedang dimabuk rindu. Semoga dari cerpen kolosan ini, dapat kita petik buah yang manis.
Tanpa mengurangi rasa hormat, terlontar terima kasih kepada para pemain, dan  bagi para pembaca.
 
“Salam hangat dariku sang penulis”
 
03.04.2011